Pengembangan Diversifikasi Pangan Pokok Lokal

suismono suismono, Nikmatul Hidayah
| Abstract views: 2072 | Untitled views: 3373

Abstract

Usaha diversifikasi pangan hingga kini belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan pemerintah. Salah satu kebijakan pemerintah di bidang konsumsi pangan yaitu mengembangkan diversifikasi pangan dengan menggali sumber karbohidrat dan
teknologi pengolahan pangan pokok yang berasal dari lokal. Teknologi pengolahan berbasis pangan pokok lokal yang telah ada di daerah masih dilakukan secara tradisional. Oleh karena itu perlu diperbaiki, digalakkan dan dikemas menjadi pangan pokok siap saji yang diterima masyarakat Indonesia menjadi makanan pokok pengganti beras. Sebagai contoh produk makanan pokok lokal yang telah diperbaiki teknologinya antara lain makanan Ledok (bubur dari bahan jagung dan singkong) menjadi produk Ledok Instan, Beras Aruk menjadi Beras Singkong Semi-Instan (BSSI), Beras ubi (Rasbi), Tiwul instan dan Beras Sagu Tiruan. Berdasarkan sebarannya, produk pangan pokok di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan yaitu : untuk wilayah Indonesia Bagian Barat mengkonsumsi makanan pokok ”nasi non beras”, untuk wilayah Indonesia Bagian Tengah mengkonsumsi makanan pokok ”bubur dari bahan tepung” dan untuk wilayah Indonesia Bagian Timur mengkonsumsi makanan pokok ”bubur dari bahan pati”.

Efforts on food diversification has yet resulted in what expected by the government. One of government policies in food consumption sector is to develop food diversification by exploring the local sources of carbohydrate and local food processing technology. Local-staple-food-based processing technology that has already existed in the area is still traditionally operated. Therefore, the products need to be improved, promoted and packaged into ready-to-eat staple food that can be consumed as the substitution of rice as staple food by the people of Indonesia. For examples, the improved technology of local staple food products among others are Ledok foods (porridge made from maize and cassava) which have been formed into instant products, and Aruk grain which has been transformed into Semi Instant Cassava Grains (BSSI), Cassava grain (Rasbi), Tiwul instant and artificial Sago grain. Based on their distribution, staple foods in Indonesia can be classified into 3 basic non-rice categories. First, boiled kernel non rice is consumed in the Western parts of Indonesia; second, porridge made from flour is consumed as the staple food in Middle zones of Indonesia; and third, slurry of starch material is eaten eastern regions of Indonesia.

 

Keywords

diversification of food; the local staple food.

Full Text:

Untitled

References

Agus Musa. 1992. Perbaikan Pengolahan Makanan Embal dari Tepung kasava. Skripsi. Fak. Tek. Industri. Unpas. Bandung

Anonim, 2008. Seputar Wirausaha. Media Industri No.1.2008. Departemen Perindustrian RI.

Anonim, 2009.http/www.Indonesianfoodweekncc. blogspot.com [diakses pada 27 Januari 2011]

Anonim. 2010. Resep Pembuatan Embal Lempeng. PT. Lintas Cipta Media, Jakarta.

Badan Ketahanan Pangan. 2011. Terbebas dari krisis Beras. Koran Tempo. Jakarta.

Dewi R.S.G.S. 1999. Pengaruh Ukuran Butiran dan Konsentrasi Tepung Campuran Umbi Kimpul (Xanthosoma sagitifolium L. Schott) terhadap sifat Fisik dan Kimia Cookies. Skripsi. Fak. Tek. Industri. Unpas. Bandung

Faisal Anwar. 2004. Solusi : Pemberagaman Kemandirian Pangan : Manfaat dan Peluang Bisnis. Rubrik ”Inspirasi Kompas, hal. 10. Edisi Senin 2 Februari 2004. Jakarta.

Femilia, Nita. 2007. Papeda Ternate Bikin Memble https://goorme.com/article/papeda-ternatebikin-memble [diakses januari 2011].

Kusumanto Dian, 2009. ELOI, Makanan pokok dari Singkong Masyarakat Pedalaman Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur. Nunukan. http./www.ipteknet.com [diakses pada 28 Januari 2011]

Louw, J. 2005. Pengkajian sagu berwawasan agribisnis di Kabupaten Yapen. Laporan Hasil Penelitian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua.

Mulyana, 1988. Pengaruh Varietas Beras, Perlakuan dan Suhu Pengeringan pada Pembuatan Bubur Nasi Kering. IPB. Bogor.

Mulyadi A. 1999. Pengaruh Pergantian Air dan Jenis Air terhadap Sifat Fisikokimia dan Fungsional Pati Umbi Ganyong. Skripsi. Fak.

Tek. Industri. Unpas. Bandung.

Prawirautama M.I.F. 1998. Pengaruh Proses Pengepresan dan Perendaman terhadap Sifat Fisikokimia dan Fungsional Tepung Sawut Umbi Gadung (Dioscorea Hispida Dennts). Skripsi. Fak. Tek. Industri. Unpas. Bandung

Purwani E.Y., Nur Richana, Sunarmani, Rahmawati N., Yetty Setyawati dan S.J. Munarso. 2003. Pengembangan teknologi Pangan Tradisional Prospektif sebagai Alternatif Pangan Pokok.

Laporan hasil Penelitian balitpasca. Jakarta

Rahmawati, Wahyu Tri. 2010. Bassang instan, sereal jagung instan dari Makassar. Makasar. (Diakses 6 Oktober 2011)

Sagita, R.H. 1999. Mempelajari Karakteristik Fisikokimia Campuran Tepung Umbi ganyong (Canna adulis Ker) pada Pembuatan Produk Cookies. Skripsi. Fak. Tek. Industri. Unpas. Bandung.

Samad, M. Y. 2003. Pembuatan Beras Tiruan (Artificial Rice) dengan Bahan Baku Ubikayu dan Sagu. Prosiding Seminar Teknologi untuk Negeri 2003. Vol. II. Hal36-40/Humas-BPPT/ANY, BPPT. Jakarta.

Suismono. 1995. Kajian Pembutan Tepung Ubijalar dan Manfaatnya untuk Produk Ekstrusi Mie Basah. Tesis. Fateta. IPB. Bogor.

Suismono, Sri Yuliani, Sri Widowati, Purwani E.Y., Hadi Setyanto, Sri Usmiati dan Puji Raharto. 2003a. Penelitian Pengembangan Sumber Pangan lokal Labu Kuning. Laporan hasil penelitian. BB Pascapanen Pertanian. Bogor.

Suismono, H. Setyanto,, S Wwidowati, R. Wylis Arief, dan Amrizal. 2003b. Pengembangan Model Agroindustri tepung kasava skala kecil menengah. Laporan hasil penelitian. BB Pascapanen Pertanian. Bogor.

Suismono dan M. Pujoyuwono. 2006. Prospek Tepung Kasava Modifikasi secara Biologis (Biological Modified cassava Flour/ BIMO-CF) di Indonesia. Seminar Hasil Penelitian Kacangkacangan

dan Umbi-umbian. Balitkabi. Malang.

Suismono, Purwani E.Y., Sri Yuliani, Sri Usmiati, 2004. Penelitian Pengembangan Teknologi Pengolahan Pangan berbasis Sagu, Sukun dan labu kuning. Laporan hasil penelitian. BB Pascapanen Pertanian. Bogor.

Suismono. 2004. Teknologi Pembuatan Tepung Ubijalar. Seminar Appresiasi Teknologi Pengolahan Ubijalar tanggal 1-2 Oktober 2004 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jendral Bina Pengolahan dan Pemasaran HasilPertanian. Kuningan

Suismono, Nur Richana, S. Widowati, Widaningrum, Misgiyarta, Pujoyuwono M., Heti Herawati, dan Nanan N. 2007. Teknologi Pengolahan Ubikayu dan Ubijalar untuk Diversifikasi Konsumsi

pangan. Laporan Hasil Penelitian. BB Litbang Pascapanen. Bogor.

Suter I.K. 2010. Pangan Tradisional Ledok sebagai Pangan Alternatif. Universitas Udayana, Bali.

Tuti Soenardi, dan Sri Wulan . 2009. Hidangan Nikmat Bergizi dari Bumi Indonesia: Aneka Sajian Mi dan Olahan Lain. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Zakaria F.R., Wijaya S., Haryadi Y., Thahir R. dan Suismono. 2010. Aplikasi Penggunaan Tepung Jewawut (Pennicelum glaucum) dan Whey Tahu untuk memberi Nilai Tambah terhadap Biologis Snack bars. Seminar KP3T. Balai Besar Litbang Pascapanen, Bogor.

Zakiah. 1999. Pengaruh Substitusi tepung Uwi (Dioscorea alata L) dan Lama Pengkukusan terhadap Sifat Fisikokimia Produk Bolu Kukus. Skripsi Jur. Tek. Pangan. Unpas Bandung.

Copyright (c) 2016 JURNAL PANGAN

Refbacks

  • There are currently no refbacks.