Peran Bioteknologi untuk Peningkatan Produksi Pangan di Lahan Marginal (Role of Biotechnology for Increased Food Production in Marginal Land)

Suyanto Pawiroharsono
| Abstract views: 1787 | Untitled views: 9166

Abstract

Dalam rangka ketahanan dan kemandirian pangan di Indonesia, maka diperlukan upaya peningkatan produktivitas pertanian, khususnya untuk tanaman pangan. Upaya intensifikasi selama ini dinilai berhasil, namun produktivitas sudah mendekati keadaan jenuh, sehingga upaya ekstensifikasi dengan memanfaatkan lahan marginal merupakan alternatif yang harus segera dilakukan. Indonesia sangat berpotensi mengembangkan pertanian di lahan marginal untuk peningkatan produktivitas tanaman pangan, mengingat luasan lahan yang dimiliki lebih dari 30 juta hektar dan memiliki kesiapan teknologi budidaya melalui aplikasi bioteknologi. Pemanfaatan lahan marginal untuk peningkatan produktivitas pangan masih banyak menghadapi kendala teknis sehingga dibutuhkan investasi yang lebih mahal. Disamping itu, implementasi pemanfaatan lahan perlu memperhatikan berbagai kearifan lokal sedemikian rupa agar berbagai sumber daya dapat dimanfaatkan secara optimal. Riset di bidang bioteknologi sudah banyak dilakukan di Indonesia dan hasil-hasilnya sangat berpotensi untuk peningkatan produksi tanaman pangan di lahan marginal. Hasil-hasil riset tersebut antara lain adalah varietas tanaman hasil rakitan yang toleran pada lahan marginal, pupuk hayati dan agen pengendalian hama. Selain itu, keberhasilan program peningkatan produktivitas pangan di lahan marginal perlu dukungan kebijakan dan komitmen pemerintah, baik pusat dan daerah serta dukungan masyarakat petani. 


In the framework of food security and food self-sufficiency, the improvement of
agricultural product of staple food commodities is urgently required. Intensification program is considered to be successful, but the productivity has recently been relatively saturated. Hence, the extensification program by using the marginal or sub-optimal land is an important option to be executed immediately. Indonesia has a great potential to develop agriculture in the sub-optimal land for increasing food production because it has a vast area of land of more that 30 million hectares and the readiness of farming technologies, specifically the application of biotechnology. The use of sub-optimal land for the improvement of food productivity is still facing several constraints, so that the more expensive capital investment is needed. In addition, the local wisdoms should be seriously considered in order to optimize the use of resources. Biotechnology researches have been done in Indonesia, and their results are potentially useful for improving the food productivity in sub-optimal lands. Theresearch results consist of the engineered plant varieties which are tolerant to sub-optimalland, bio-fertilizer and bio-pesticide. Moreover, the success of the program requires the support from the government (centraland regional), as well as the farmers communities.

 

Keywords

food; marginal or sub-optimal land; biotechnology; tolerant plant variety

Full Text:

Untitled

References

Alihamsyah, T. 2011. Penyusunan Model Pengembangan Pertanian Melalui Inovasi di Lahan Rawa – M-P2MI Lahan Rawa. Sosialisasi Model Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Melalui Inovasi (MP2LRMI). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Kalimantan Selatan, 1 Desember 2011.

Koespramoedyo, D. 2011. Peran Bidang Pertanahan Dalam mendukung Penyediaan Lahan Pertanian Untuk Swasembada Pangan Nasional. Diskusi Terbatas tentang Lahan Marginal. Staf Ahli Menteri Bidang Pangan dan Pertanian, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 16 Nopember 2011.

Mexal, J.G. 2006. Genetics and Plant Breeding. A/H 100G. Spring 2006. http://aces.nmsu.edu Lubis, K. 2005. Pemuliaan Tanaman dan Biologi Molekuler. Materi Pendidikan Program Studi Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

Pawiroharsono, S. dan Chaidir, I. 2011. Ketahanan Pangan. Kumpulan Makalah Seminar Ketahanan Pangan dan Gizi Untuk Masyarakat

Miskin. Kedeputian Bidang Koordinasi Perlindungan Sosial dan Perumahan Rakyat, Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI, Jakarta.

Pawiroharsono, S. 2011. Rangkuman Sosialisasi Model Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Melalui Inovasi (MP2LRMI). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Kalimantan Selatan, 1 Desember 2011.

Permana, F.A. 2011. Impor Pangan Masuk Tahap Membahayakan. Media Indonesia, 18 Oktober 2011.

Soeranto. 2011. Pemuliaan Tanaman Sorgum di PATIR-BATAN. Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi - Badan Tenaga Nuklir Nasional (PATIR-BATAN). http://www.batan.go.id/patir/ berita/pert/sorgum.html.

Sriyono. 2011. Kesiapan Inovasi Teknologi Pertanian lahan Rawa Menghadapi Perubahan Iklim dan mempercepat Surplus Beras 2025. Sosialisasi Model Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Melalui Inovasi (MP2LRMI). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Kalimantan Selatan, 1 Desember 2011

Wijayanti, L. 2012. Arahan Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi. Auditorium LABTIAB, Puspiptek, Serpong, 6 Januari 2012.

Wikipedia, 2012. Pemuliaan Tanaman. http:// id.wikipedia.org/wiki/ Pemuliaan_tanaman#Gelombang_kedua:_Integrasi_bioteknologi_dalam_pemuliaan

Wirnas, D., Trikoesoemaningtyas, dan Sopandie, D. 2011. Perbaikan Produktivitas Tanaman di Lahan Marginal Untuk Peningkatan Produksi Pangan Nasional. Diskusi Terbatas tentang Lahan Marginal. Staf Ahli Menteri Bidang Pangan dan Pertanian, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 16 Nopember 2011.

Copyright (c) 2016 JURNAL PANGAN

Refbacks

  • There are currently no refbacks.